Suatu hari saya mendapatkan sms dari seorang sahabat yang isinya “Lihat Silet”, yang dimaksud sahabat saya itu adalah acara infotainment disebuah stasiun tv swasta. Sayangnya saya telat membaca sms itu, sudah satu jam lewat baru saya baca. Saat saya tanyakan ada apa di silet? dia jawab “ada tentang Matahari kembar gitu, ngebahas astronomi lah”. Awalnya saya tidak begitu penasaran, ah palingan juga isu.
Tapi sore harinya, ada seorang teman yang bertanya di status saya, soal bayi Matahari. Wah,apa mungkin sama dengan yang di silet tadi? Malu juga saya rasanya, katanya suka astro tapi ketinggalan info.hehe,, Saat itu juga saya cari informasi, dan benar ternyata, banyak sekali blog-blog maupun media profesional yang membahas berita heboh itu. Jadi tergelitik untuk ikut membahasnya dan membayangkan apasaja yang mungkin terjadi jika memang berita tersebut benar.
Menurut berita yang berkembang, telah ditemukan embrio bintang di sekitar Tata Surya yang memiliki massa jauh lebih besar dari Matahari. Disinyalir saat ini embrio tersebut telah memiliki massa 8-10 kali massa Matahari dan berpeluang menjadi bintang terbesar dan tercerah di galaksi Bima Sakti. Gambar embrio bintang tersebut terekam oleh teleskop Herschel milik Badan Luar Angkasa Eropa (ESA).
Dari informasi tersebut timbul beberapa pertanyaan:
1. Mungkinkah embrio bintang tersebut akan benar-benar menjadi bintang?
2. Jika ia menjadi bintang apakah mungkin menjadi bintang terbesar dan tercerah di Bima Sakti?
3. Dimana sebenarnya letak embrio bintang tersebut? Berapa satuan astronomi dari Bumi kita?
4. Apa yang akan terjadi dengan Bumi dan Tata Surya jika memang embrio tersebut menjadi bintang?
Mari kita jawab satu per satu…
1. Dari informasi diatas disebutkan bahwa embrio tersebut saat ini sudah memiliki massa 8-10 kali massa Matahari. Dengan massa demikian mungkinkah dia menjadi bintang? Jawabannya teramat sangat mungkin sekali. Karena syarat minimal sebuah embrio/proto bintang bisa menjadi bintang adalah jika ia memiliki massa minimal 0,08 massa Matahari. Dengan massa 8-10 kali massa Matahari, maka embrio tersebut sudah sangat layak menjadi bintang.
2. Jika menjadi bintang, mungkinkah ia menjadi yang terbesar di Bima Sakti? Seperti kita ketahui embrio tersebut kabarnya memiliki massa 8-10 kali massa Matahari saat ini, massa embrio tersebut masih mungkin bertambah, tapi rasanya peningkatan massanya tak akan terlalu signifikan dari massanya yang sekarang. Jikalau kita asumsikan embrio tersebut terus berkembang hingga massanya bertambah dua kali lipat dari sekarang (max 20kali massa Matahari), maka mungkinkah bintang tersebut menjadi yang terbesar di Bima Sakti? Jawabannya TIDAK. Kenapa? Karena bintang bermassa terbesar saat ini dipegang oleh R136a1 dengan massa 265-320 massa matahari. Dengan massa 8-10 kali massa Matahari, masih sangat jauh untuk embrio tersebut menyandang gelar bintang termassif. Sebagai catatan, massa maksimal yang bisa dicapai oleh sebuah bintang adalah massa pada saat ia lahir, setelah itu bintang akan terus kehilangan massanya akibat reaksi fusi yang dialaminya. Bahkan ada beberapa hal yang cukup memberatkan bagi embrio tersebut untuk menjadi bintang massif.Selama ini bintang-bintang massif terletak dekat dengan pusat galaksi, pada daerah tersebut sangat mendukung terbentuknya bintang massif bahkan bintang super massif. Sementara itu Matahari bersama Tata Surya kita terletak jauh dari pusat galaksi yaitu sekitar 26.000 tahun cahaya. Pernyataan diatas terbukti jika kita melihat bintang-bintang yang terdekat dengan Tata Surya kita, dimana sebagian besar adalah bintang katai cokelat, tak ada bintang massif (lebih dari10 kali massa Matahari) sampai jarak 600 tahun cahaya dari Bumi. Bintang massif terdekat adalah Antares dengan massa 15,5 kali massa Matahari dengan jarak 600 tahun cahaya, kemudian Betelgeuse dengan massa 20 kali massa Matahari berjarak 640 tahun cahaya dan Rigel dengan massa 17 kali massa Matahari berjarak 773 tahun cahaya. Ada pula Deneb dengan massa 20 kali Matahari dengan jarak 1400 tahun cahaya. Jadi mungkinkah ada bintang massif dengan jarak yang sangat dekat dengan Bumi?
3. Petanyaan berikutnya yang sangatpenting adalah mengenai posisi embrio itu? Terletak dimana dan berapa jaraknya dari Bumi? Sejauh ini beberapa menyebutkan bahwa embrio tersebut terletak di Tata Surya kita? Berarti di dalam Tata Surya? Serius? Luas Tata Surya kita adalah sekitar 30 satuan astronomi (Orbit Neptunus), mungkinkah ada embrio bermassa 8-10 kali massa Matahari dengan jarak sedekat itu? Jika memang betul maka tak perlu menunggu embrio itu menjadi bintang, saat ini pun harusnya embrio tersebut sudah mengganggu sistem gravitasi planet-planet di Tata Surya jika ia memang ada di dalam Tata Surya. Yang perlu diingat adalah embrio tersebut sudah memiliki massa yang begitu tinggi, dengan demikian efek tarikan gravitasinya sama saja dengan sebuah bintang yang bermassa sama dengan itu. Dengan kata lain, jika embrio tersebut dinyatakan berada didalam Tata Surya maka seharusnya efek keberadaannya sudah kita rasakan sekarang bahkan jauh-jauh hari sebelumnya. Bayangkan saja, satu Matahari saja bisa membuat 8 buah planet mengintarinya, bagaimana jika ada benda lain bermassa 10 kali Matahari di dalam Tata Surya? Maka yang seharusnya terjadi pusat Tata Surya kita saat ini sudah bukan Matahari lagi melainkan embrio itu, sekali lagi tanpa harus menunggu embrioitu menjadi bintang. Tapi apa yang kita rasakan sekarang? Tak ada yang aneh bukan?! Lalu jika dinyatakan berada di sekitar Tata Surya? Dimana dan seberapa jauh?
4. Lantas dimana letak embrio itu yang sebenarnya? Apa yang akan terjadi dengan Bumi dan Tata Surya jika memang embrio tersebut menjadi bintang?Seharusnya memang yang memberi informasi harus secara detail menyampaikan letak embrio tersebut. Tapi mungkin kita bisa memperkirakannya? Caranya? Tentu dengan belajar dari bintang ganda lainnya. Ya, jika ada dua buah bintang atau lebih yang berdekatan dan saling mengorbit pusat massanya maka fenomena tersebut disebut bintang ganda. Dalam bintang ganda terdapat bintang primer dan bintang sekunder, bintang primer adalah bintang yang memiliki massa yang lebih besar dari bintang sekunder. Dalam kasus Matahari dan embrio bintang itu maka Matahari akan menjadi bintang sekunder dan akan mengintari pusat massa dari embrio bintang tersebut.
Sistem bintang ganda terdekat dariTata Surya kita adalah Alpha Centauri. Alpha Centauri terdiri dari 3 buah bintang yang saling mengorbit yaitu Alpha Centauri A, B dan Proxima Centauri. Proxima Centauri terletak 0,12 tahun cahaya dari Alpha Centauri A dan B, Alpha Centauri A dan B sendiri berjarak sangat dekat satu sama lain yaitu dibawah 0,0001 tahun cahaya atau dibawah 946 juta km, sebagai perbandingan jarak Matahari Jupiter adalah sekitar 780 juta km dan jarak Matahari-Saturnus adalah 1,43 miliar km. Dengan demikian jika diibaratkan Tata Surya, Alpha Centauri A berada pada posisi Matahari sedangkan Alpha Centauri B terletak diantara Jupiter dan Saturnus. Jarak tersebut terbilang sangat dekat bagi sebuah bintang ganda. Mungkinkah sistem bintang ganda di Tata Surya kita seperti sistem di Alpha Centauri? Mungkinkah Matahari dan embrio bintang tersebut terletak sepertihalnya jarak antara Alpha Centauri A dan B? Alpha Centauri A adalah bintang sekelas Matahari sedangkan Alpha centauri B adalah bintang yang berada dibawah kelas Matahari, bahkan Proxima Centauri adalah bintang katai merah yang jauh berada di bawah kelas Matahari. Dengan demikian kasus di Alpha Centauri jelas berbeda karena sistem bintang Alpha Centauri tidak melibatkan bintang massif seperti calon teman Matahari yang banyak dibicarakan saat ini. Lalu adakan sistem bintang yang yang melibatkan bintang massif?
Rigel, itulah sistem bintang yang melibatkan bintang massif. Rigel adalah sistem bintang yang terdiri dari tiga buah bintang. Rigel A dan Rigel B adalah yang memiliki jarak terdekat yaitu 2200 Satuan Astronomi (0,0348 tahun cahaya) atau sekitar 330 miliar km. Rigel A 500 kali lebih terang dari Rigel B, namun pada jarak tersebut, pengaruh gravitasi Rigel A tidak terlalu tinggi terhadap Rigel B. Nah, dengan demikian jika diasumsikan bintang yang akan terbentuk dari embrio bintang itu sebesar Rigel (17 kali massa matahari), maka jarak 2200 satuan astronomi dari Matahari adalah jarak yang cukup aman bagi sistem gravitasi Tata Surya kita. Lalu akan seperti apa kehidupan di bumi kelak?
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan skala Pogson, jika sebuah bintang sebesar Rigel yang memiliki magnitudo mutlak -6,7 diletakkan pada jarak 2200 satuan astronomi (0,0348 tahuncahaya) dari Matahari, maka bintang tersebut akan memiliki magnitudo semu -21,55. Sebagai perbandingan, Matahari memiliki magnitudo semu -26,74 karena letaknya hanya satu satuan astronomi. Sementara Bulan purnama memiliki magnitudo semu -12,92. Dengan demikian jika hal tersebut terjadi maka kelak kita akan melihat Matahari didampingi oleh sebuah bintang lain yang terangnya hampir menandingi Matahari. Itu jika jarak bintang tersebut 2200 satuan astronomi. Lalu bagaimana jika bintang itu ternyata terletak di tepi luar TataSurya (sabuk kuiper), misalkan pada jarak 50 satuan astronomi, maka bintang tersebut akan memiliki magnitudo semu -29,77 yang artinya melebihi terangnya Matahari di siang hari. Bahkan pada jarak tersebut sistem keseimbangan gravitasi di Tata Surya jelas akan terganggu. Bagaimana jika lebih dekat lagidari itu? Jika bintang itu terletak 1 satuan astronomi dari Matahari (jarak Matahari-Bumi) maka magnitudo semunya menjadi -38,27. Wow… itu semua jika bintang yang akan lahir dari embrio bintang itu sebesar Rigel.
Dari pembahasan diatas, satu hal yang perlu digaris bawahi, menurut pandangan saya embrio tersebut tidak mungkin terletak didalam Tata Surya ataupun di sabuk kuiper. Karena jika ia berada disana, efek keberadaannya seharusnya sudah dapat kita rasakan saat ini bahkan sejak jauh-jauh hari, karena ingat embrio itu disebutkan saat ini sudah bermassa 8-10 kali massa Matahari. Kemungkinan besar embrio tersebut terletak ribuan satuan astronomi dari Bumi kita. Jika benar berada pada jarak ribuan satuan astronomi pun maka kelak Bumi akan sangat merasakan dampak keberadaannya, akan ada bintang yang terangnya menyaingi Matahari kita. Namun demikian kita tunggu saja update berita terbaru mengenai embrio bintang ini.
Sekian dan mohon maaf jika ada kekeliruan…. Semoga Bermanfaat….
By: Redbetelgeuse_Orionis
