Dalam tulisan “Selamatkah Bumi Saat Matahari Berevolusi?”, saya telah menyampaikan tentang planet venus yang menjadi sangat panas karena berevolusi terlalu cepat. Lalu saya sedikit menyinggung tentang global warming yang juga bisa mengancam bumi untuk mengikuti jejak venus. Pada kesempatan kali ini, saya ingin membahas tentang global warming dan keterkaitannya dengan kertas. Kenapa hal ini yang dibahas? Karena selama ini banyak yang “mengkambinghitamkan” kertas sebagai penyebab global warming.

Sebelumnya kita harus mengetahui penyebab utama dari global warming itu apa? Global warming atau pemanasan global disebabkan oleh meningkatnya kandungan karbon dioksida pada atmosfer kita. Kenapa bisa meningkat? Jawabannya sederhana, produksi karbon dioksida semakin meningkat sementara jumlah pohon semakin sedikit. Produksi karbon dioksida semakin meningkat dengan semakin bertambah banyak industri yang mengeluarkan emisi udara dan juga semakin meningkatnya emisi udara dari kendaraan bermotor, sementara itu pohon yang notabene membutuhkan karbon dioksida sebagai raw material dari proses fotosintesisnya justru semakin berkurang. Akhirnya karbon dioksida yang tidak “tertangkap” oleh pohon-pohon tersebut terlepas ke atmosfer, dan global warminglah jadinya.

Lantas, apa keterkaitannya dengan kertas? Kita memang harus jujur bahwa kertas (Industri Pulp dan Kertas) mengeluarkan emisi udara, lalu apakah kertas mengurangi jumlah pohon?

Menurut pandangan sebagian besar orang, kertas itu berasal dari pohon (kayu), benar memang, tapi tidak sepenuhnya benar. Jawaban yang tepat adalah kertas berasal dari material berserat, dan contohnya adalah kayu yang memang paling banyak digunakan sebagai bahan baku kertas. Selain itu kertas juga bisa berasal dari serat sekunder (secondary fiber) ataupun tumbuh-tumbuhan (nonwood). Kalau kertas berasal dari pohon, apakah kertas mengurangi jumlah pohon?

Industri Pulp sebagai produsen bahan baku kertas memperoleh kayu sebagai bahan bakunya dari Hutan Tanaman Industri (HTI) yang sudah jelas legalitasnya dari Departemen Kehutanan. Berdasarkan data dari Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), luas keseluruhan HTI di Indonesia hanya sekitar 5% dari luas keseluruhan hutan Indonesia, jumlah yang sangat kecil. Apakah jumlah tersebut berkontribusi merusak hutan?
HTI tersebut menggunakan sistem tebang tanam secara berkala. Jadi, HTI tersebut jelas tidak mengurangi jumlah pohon karena setelah ditebang kemudian ditanam kembali. Industri pulp tidak akan membiarkan hutannya menjadi gundul, karena jika terjadi demikian maka Industri pulp tersebut tidak akan “hidup”. Jadi, jelas salah jika kita mempersalahkan Industri pulp sebagai penyebab berkurangnya jumlah pohon. Lalu siapa yang patut dipersalahkan? Illegal logging jawabannya, yang menebang tanpa tanggung jawab, entah siapa pelakunya, yang jelas sangat marak di Indonesia. Tapi satu yang perlu diingat, HTI bukan illegal logging!

Selama ini banyak orang berbicara dan menghimbau “kurangi konsumsi kertas”. Mereka berfikir bahwa dengan mengurangi pemakaian kertas maka kita akan mengurangi jumlah pohon yang hilang. Pernyataan yang menurut saya “lucu”. Kenapa? Pertama karena telah dijelaskan bahwa produksi kertas tidak menyebabkan berkurangnya pohon. Kedua, saat ini 50% dari produksi kertas berasal dari kertas bekas (secondary fiber). Yang ketiga, pemahaman mereka terhadapa kertas hanya terbatas pada kertas tulis cetak, koran, majalah atau kertas tisu. Padahal jenis kertas itu sangat banyak. Sebagai informasi, lebih dari 50% packaging makanan dan barang-barang saat ini menggunakan kertas (packaging paper). Belum lagi specialty paper yang juga sangat banyak. Jadi, pengurangan konsumsi terhadap kertas tulis cetak, koran atau tisu (kalau terjadi) tidak akan berpengaruh signifikan terhadap produksi kertas secara keseluruhan. Dan lucunya, disaat himbauan untuk mengurangi konsumsi kertas sedang gencar, produksi dan konsumsi kertas justru semakin meningkat. Bahkan menurut penelitian, konsumsi kertas per kapita suatu negara adalah proporsional terhadap kesejahteraannya. Indonesia masih tergolong negara dengan konsumsi kertas yang masih rendah, tak heran karena kesejahteraan masyarakat kita pun masih tergolong rendah.

Lalu pantaskah kertas dijadikan “kambing hitam” global warming?
Jikalau alasannya karena pohon, jelas kita jawab tidak.
Lalu bagaimana dengan emisi udara?
Industri pulp dan kertas memang mengeluarkan emisi udara, tapi tidak bijak rasanya jika kita hanya menyalahkan industri pulp dan kertas, karena industri yang mengeluarkan emisi tidak hanya industri pulp dan kertas. Industri pulp dan kertas hanyalah sebagian kecil dari sekian banyaknya industri.

Sekian.. Mudah-mudahan bermanfaat..

“Kertas tidak akan pernah terlepas dari kehidupan kita walaupun dunia digital semakin meraja lela”