Latest Entries »

Gliese 581c ditemukan, mungkinkah ada kehidupan disana?

Untuk pertama kalinya, astronom akhirna menemukan planet yang mirip bumi diluar tata surya, sebuah planet extrasolar dengan radius 1,5 kali lbih besar dari bumi dan mampu memiliki air dalam bentuk cair. Dengan menggunakan ESO 3,6 m, tim pemburu planet dari Swiss, Prancis dan Portugal akhirnya menemukan super-bumi yang massanya 5 kali massa bumi dan mengorbit bintang katai merah, yang sebelumnya diketahui telah memiliki planet bermassa neptunus.
Exoplanet, itulah cara para astronom menyebut planet yang berada disekitar bintang selain matahari. Nah, exoplanet yang baru ditemukan ini merupakan exoplanet terkecil yang pernah ditemukan hingga saat ini dan mengintari bintangnya hanya dalam 13 hari, dan jaraknya dengan bintang induknya juga 14 kali lebih dekat dari jarak bumi-matahari. Bintang induknya sendiri ternyata bukanlah bintang sekelas matahari, melainkan bintang katai merah yang lebih kecil, lebih dingin dan lebih redup dari matahari. Itulah Gliese 581, bintang yang menaungi exoplanet mirip bumi tersebut.
Exoplanet tersebut dinamakan Gliese 581c yang artinya planet kedua yang bermukim di bintang Gliese 581. Kedua ko sama dengan c? Ya, soalnya untuk bintang pertama dalam sistem extrasolar planet dinamakan dengan “nama bintang” diikuti indikasi “b”, jadi untuk bintang kedua indikasinya “c” dst.

Mengapa Gliesse 581c dinyatakan layak huni?
Gliese 581c dinyatakan layak huni karena ia terletak didalam area layak huni (habitable zone bintang), yaitu daerah disekitar bintang dimana air yang berada pada area itu bisa berada dalam fasa cair.
Menurut Stephane Udry dari Geneva Observatory, mereka memperkirakan temperatur rata-rata exoplanet ini antara 0-40 derajat celcius, dan kondisi airnya masih dalam bentuk cairan. Dari pemodelannya diperkirakan exoplanet ini merupakan planet batuan seperti bumi atau bahkan planet lautan.
Ditambahkan oleh Xavier Belfosse, salah satu anggota tim dari Prancis, kalau air dalam bentuk cair merupakan komponen yang sangat penting bagi kehidupan sepanjang yang kita ketahui. Dengan memiliki temperatur dan jarak yang relatif dekat, Gliese 581c kemungkinan akan menjadi target penting misi ruang angkasa dimasa depan khususnya dalam hal pencarian extra-terrestrial.

Bagaimana dengan bintang induknya? Mungkinkah bintang tersebut mendukung adanya kehidupan di Gliese 581c sebagaimana matahari mendukung kehidupan di bumi?

Gliese 581 merupakan satu dari 100 bintang yang berada dekat dengan kita. Massa dan radiusnya hanya sepertiga matahari. Secara intrinsik bintang katai merah seperti ini memiliki kecerlangan setidaknya 50 kali lebih lemah dari matahari. Bintang katai merah termasuk bintang yang umum ditemukan di galaksi kita (bimasakti): diantara 100 bintang dekat matahari, 80 diantaranya berada di kelas ini.
Menurut Xavier Bonfils dari Lisbon University, bintang katai merah merupakan target ideal dalam pencarian planet bermassa kecil yang memiliki air dalam bentuk cair. Hal ini disebabkan karena bintang katai seperti ini memancarkan sedikit cahaya sehingga daerah layak huninya (habitable zone) berada lebih dekat dengan bintang dibanding planet-planet disekitar matahari. Planet yang berada di daerah tersebut akan lebih mudah dideteksi dengan metoda kecepatan radial, metoda yang paling sukses dalam pencarian dan deteksi exoplanet.

Dari penjelasan diatas, muncul pertanyaan, apakah munkin ada kehidupan di Gliese 581c?

Meskipun Gliese 581c berada pada habitable zone dan mendukung adanya air dalam fasa cair seperti halnya bumi yang berada pada habitable zone matahari, namun masih banya parameter-parameter yang harus dibuktikan untuk menunjukkan ada tidaknya kehidupan disana, atmosfernya misalnya. Jadi, masih terlalu jauh untuk menyimpulkan adanya kehidupan di Gliese 581c.
Namun satu hal yang perlu diingat, matahari dengan sistem tata suryanya hanyalah hanyalah sebagian kecil bahkan teramat kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan jagad raya. Di galaksi tempat kita bernaung saja (bimasakti), setidaknya terdapat sekitar 2 milyar bintang yang bsarnya bermacam-macam. Nah, yang jadi pertanyaan, dari sekitar 2 milyar bintang di bimasakti tersebut, mungkinkah jika matahari merupakan satu-satunya yang memiliki sistem perplanetan (tatasurya)? Pertanyaan tersebut telah terjawab dengan penemuan-penemuan exoplanet seperti Gliese 581c, dengan demikian sistem seperti tata surya juga dimiliki oleh bintang lain selain matahari, yang disebut sistem ekstra solar. Muncul pertanyaan berikutnya, benarkah bumi adalah satu-satunya planet yang memiliki kehidupan sementara begitu banyak sistem seperti tata surya di bintang lain? Diantara sekian banyak sistem extrasolar tersebut, adakah yang memiliki planet seperti bumi?
Itu baru di galaksi bimasakti saja, perlu diingat bahwa di jagad raya ini terdapat milyaran galaksi, setiap galaksi memiliki milyaran bintang. Mungkinkah di galaksi lain juga ada bintang yang memiliki sistem seperti tatasurya? Sayangnya IPTEK kita belum bisa sejauh itu.. Nah, sampailah kita pada pertanyaan paling menggelitik, “masih yakinkah kita bahwa kita adalah satu-satunya manusia yang hidup di jagad raya yang begitu luas ini?”
Wallahualam..

Sumber: Press Realease ESO dan www.langitselatan.com

Bintang yang kita lihat malam ini adalah bintang dimasa lalu?
Ya.. Sebuah pertanyaan yang agak aneh. Tapi memang seperti itulah kenyataanya. Apa buktinya?

Misalnya kita ambil contoh alpha centauri, salah satu bintang yang paling terkenal. Alpha centauri berjarak sekitar 4,3 tahun cahaya dari bumi. Artinya, cahaya dengan kecepatan 3×10^8 m/s membutuhkan waktu 4,3 tahun untuk sampai dari alpha centauri ke bumi. Jadi, cahaya alpha centauri yang kita lihat malam ini adalah cahaya alpha centauri pada 4,3 tahun yang lalu. Cahaya yang dipancarkan alpha centauri pada detik ini sendiri baru akan kita lihat pada 4,3 tahun yang akan datang.

Itu baru alpha centauri, yang jaraknya tergolong dekat (bintang terdekat dari tata surya, proxima centauri 4,22 tahun cahaya). Bagaimana dengan capella yang berjarak 42 tahun cahaya, atau spica (260 tahun cahaya), betelgeuse (643 tahun cahaya), atau bahkan rigel (770 tahun cahaya). Bisa dibayangkan, cahaya rigel yang kita lihat malam ini adalah cahayanya pada 770 tahun yang lalu. Jadi, tidak akan cukup umur kita untuk melihat cahaya yang dipancarkan oleh rigel pada detik ini..

Lalu bagaimana dengan matahari kita tercinta?
Matahari berjarak sekitar 150 juta km(1 satuan astronomi). Dengan rumus t=s/v, kita dapat mengitung bahwa cahaya matahari membutuhkan waktu sekitar 8,33 menit untuk sampai di bumi. Jadi cahaya matahari yang akan kita rasakan misal pada pukul 6 pagi besok adalah cahaya yang dipancarkan matahari pada 8,33 menit sebelum kita merasakan cahaya tersebut. Jadi jarak matahari-bumi bisa dikatakan 8,33 menit cahaya.

Begitulah.. Semoga bermanfaat..

Beberapa waktu lalu saya sempat menunjukkan daftar 20 bintang tercerah dilangit malam. Data tersebut berdasarkan magnitudo tampak(semu) bintang, yaitu kecerlangan yang tampak dari bumi, bukan kecerlangan asli dari bintang tersebut, karena kecerlangan sangat dipengaruhi oleh jarak dari bintang yang bersangkutan. Semakin dekat jaraknya dari bumi maka semakin tinggi kecerlangan/magnitudonya.

Lantas bagaimana dengan magnitudo asli dari bintang tersebut atau disebut magnitudo mutlak?

Magnitudo mutlak adalah kecerlangan dari suatu bintang ketika diletakkan pada jarak 10 parsec dari bumi. Ketika bintang diletakan pada jarak tersebut maka kecerlangan bintang tersebut akan berubah dari kecerlangan semunya. Untuk mengetahui data kecerlangan mutlak suatu bintang maka kita bisa menghitung melalui persamaan:

m + M = -5 + 5 log d
dimana, m = magnitudo semu/tampak, M = magnitudo mutlak, d = jarak bintang dalam parsec.

Melalui data dari www.wikipedia.com, yang mencantumkan ” daftar 90 bintang tercerah di langit malam” berdasarkan magnitudo semunya, saya mencoba untuk mengkonversi data tersebut menjadi berdasarkan magnitudo mutlaknya. Yang mana dalam data dari wikipedia tersebut mencantumkan magnitudo semu dan jarak (dalam satuan cahaya), untuk memperoleh magnitudo mutlaknya kita tinggal mengkonversi jaraknya kedalam satuan parsec (1 parsec = 3,2616 tahun cahaya), kemudian memasukkannya kedalam persamaan yang tadi telah disebutkan.

Dan berikut ini adalah daftar 20 bintang tercerah berdasarkan magnitudo mutlaknya;

1. (19) Deneb (rasi cygnus)
Magnitudo semu 1,25, jarak 3200 tc, magnitudo mutlak -8,7

2. (83) Aludra (canis mayor)
Magnitudo semu 2,40, jarak 3200 tc, magnitudo mutlak -7,56

3. (37) Wezen (canis mayor)
Magnitudo semu 1,84, jarak 1800 tc, magnitudo mutlak -6,87

4. (6) Rigel (orion)
Magnitudo semu 0,12, jarak 770 tc, magnitudo mutlak -6,74

5. (30) Alnilam (orion)
Magnitudo semu 1,70, jarak 1300 tc, magnitudo mutlak -6,3

6. (66) Sadr (cygnus)
Magnitudo semu 2,24, jarak 1500 tc, magnitudo mutlak -6,07

7. (62) Naos (puppis)
Magnitudo semu 2,21, jarak 1400 tc, magnitudo mutlak -5,95

8. (2) Canopus (carina)
Magnitudo semu -0,72, jarak 310 tc, magnitudo mutlak -5,61

9. (9) Betelgeuse (orion)
Magnitudo semu 0,58, jarak 643 tc, magnitudo mutlak -5,6

10. (10) Beta Centauri (centaurus)
Magnitudo semu 0,60, jarak 530 tc, magnitudo mutlak -5,45

11. (31) Alnitak A (orion)
Magnitudo semu 1,70, jarak 820 tc, magnitudo mutlak -5,30

12. (34) Gamma Velorum A (vela)
Magnitudo semu 1,78, jarak 840 tc, magnitudo mutlak -5,27

13. (16) Antares (scorpio)
Magnitudo semu 1,09, jarak 600 tc, magnitudo mutlak -5,23

14. (25) Shaula (scorpio)
Magnitudo semu 1,62, jarak 700 tc, magnitudo mutlak -5,04

15. (51) Saiph (orion)
Magnitudo semu 2,05, jarak 720 tc, magnitudo mutlak -4,51

16. (36) Mirfak (perseus)
Magnitudo semu 1,82, jarak 590 tc, magnitudo mutlak -4,47

17. (68) Aspidiske (carina)
Magnitudo semu 2,25, jarak 690 tc, magnitudo mutlak -4,38

18. (24) Adara (canis mayor)
Magnitudo semu 1,51, jarak 430 tc, magnitudo mutlak -4,09

19. (63) Lamda velorum (vela)
magnitudo semu 2,23, jarak 570 tc, magnitudo mutlak -3,98

20. (45) Murzim (canis mayor)
Magnitudo semu 1,98, jarak 500 tc, magnitudo mutlak -3,95

Keterangan:
* angka didalam kurung adalah peringkat bintang yang bersangkutan dalam “daftar 90 bintang tercerah di langit malam” berdasarkan magnitudo semunya.
* tulisan didalam kurung setelah nama bintang adalah rasi bintang tempat bintang tersebut berada.
* tc = tahun cahaya, harus dikonversi telebih dahulu kedalam parsec untuk mendapatkan magnitudo mutlaknya.
* Semakin kecil nilai magnitudo maka semakin cerah bintang tersebut
* Data magnitudo mutlak berdasarkan perhitungan manual.

Dari data diatas, terdapat fenomena yang menarik. Sirius yang kita tahu merupakan bintang tercerah di langit malam ternyata tidak termasuk kedalam 20 besar bintang tercerah berdasarkan magnitudo mutlaknya, hal tersebut wajar karena sirius bukan tergolong bintang masif, dia menjadi yang tercerah karena jaraknya cukup dekat dengan kita yaitu 8,6 tc, magnitudo mutlaknya sendiri hanyalah 1,43. Begitu juga dengan alpha centauri yang menjadi primadona di langit selatan, alpha centauri yg merupakan bintang tercerah ke 4 ternyata hanya memiliki magnitudo mutlak 4,33.
Lalu bagaimana dengan matahari kita yang terlihat begitu cerahnya dengan magnitudo semu -26,73? Ternyata matahari hanya memiliki magnitudo mutlak 4,83 atau hampir satu level dengan alpha centauri.
Bintang-bintang tercerah tersebut adalah bintang-bintang masif yang jaraknya sangat jauh dari kita, bisa dibayangkan jika bintang sebesar deneb, rigel atau betelgeuse berada pada tempat alpha centauri (4,3 tc), maka kita mungkin akan melihat bintang tersebut menyaingi kecerahan bulan purnama, malam menjadi bertaburan bulan. Malam yang aneh!

Demikian, mohon dikoreksi jika ada yang salah..

Mungkinkah Alien Itu Ada?

Ekstra terrestrial semakin gencar dibicarakan. Para pakar astronomi berusaha mengungkap ada tidaknya kehidupan diluar bumi.

Tentu saja kita sangat mengenal istilah alien dan UFO (Unidentified Flying Object), dua hal tersebut tak henti-hentinya menjadi kontroversi. Banyak sekali orang-orang yang mengaku pernah melihat objek misterius tersebut, dari orang awam hingga astronom profesional.

Robert K.G. Temple dalam bukunya, The Sirius Mystery, pernah mengemukakan hal yang sungguh berani. Ia menemukan fakta yang membingungkan tentang suku Dogon, suku benua Afrika yang masih primitif itu ternyata memuja makhluk-makhluk yang mereka hubungkan dengan sistem bintang sirius. Anehnya, tanpa peralatan ilmiah yang canggih suku Dogon mengetahui karakteristik bintang sirius (yang dalam Al-Quran surat An-Najm ayat 49 dibahas dengan nama Syi’raa). Bahkan ia menyampaikan hipotesis yang cukup berani, bahwa pada 3000 tahun sebelum masehi, bumi pernah dikunjungi makhluk-makhluk amfibi dari kawasan sirius, makhluk asing tersebut berhasil mencitra peradaban sumeria dan Mesir kuno. Sulit memang untuk mempercayainya, apalagi tidak ada penjelasan ilmiah sama sekali.

Kemudian juga sempat muncul pengakuan dari para astronom. John O’Neill, seorang editor sains dari New York Herald Tribune, mengaku menyaksikan suatu benda semacam “jembatan” yang aneh pada saat meneropong bulan tanggal 29 juli 1953, jembatan yang memanjang dua belas mil di daerah Mare Crisium Bulan yang sebelumnya benda tersebut tak ada. Kesaksian O’Neill sempat dicemooh oleh astronom lain, namun muncullah kesaksian pakar bulan nomor wahid, H.P. Wilkins dari Inggris yang menyatakan bahwa ia pun pernah menyaksikan “jembatan” aneh yang tiba-tiba muncul itu. Setelah itu Patrick Moore, anggota British Astronomical Association juga melihat jembatan di bulan yang menghubungkan satu gunung dan gunung lain di dataran Mare Crisium. Kesaksian-kesaksian itu bukan untuk menyatakan adanya kehidupan di bulan, tapi memperkirakan adanya makhluk asing yang berkunjung ke bulan. Mungkinkah?

Berikutnya adalah pernyataan orang-orang awam yang mengaku pernah melihat UFO. Bahkan diantaranya adalah orang-orang terkenal, seperth bintang film Elke Sommer yang mengaku melihat piring terbang di Los Angeles tahun 1978. Kemudian raja tinju Muhammad Ali mengaku melihat UFO saat latihan di Central Park New York tahun 1972. Berikutnya Jimmy Carter, mantan presiden Amerika, pada tahun 1973 mengaku melihat piring terbang bersama 20 orang koleganya, piring terbang tersebut tampak sebesar bulan, melayang di langit sambil berubah-ubah warna, dari merah ke hijau.

Bahkan pengakuan mengenai UFO ternyata tidak hanya made in luar negeri saja. Di negeri kita juga ada orang yang mengaku pernah diculik UFO. Sudjana Kerton pernah mengaku diculik UFO dirumahnya di dago pakar.

Sebelum berangkat ke luar negeri, Kerton sama sekali tidak tahu apa itu UFO, lebih-lebih lagi untuk mempercayainya. Namun, setelah bermukim di negeri paman sam, ia mengalami pemandangan aneh. Saat ia berada di Denver, bumi rata Denver romantis tersepuh cahaya bulan penuh, kerton tengah memandang langit dari sebuah park, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah fenomena aneh. Dia melihat benda berbentuk cerutu besar yang tengah layang diam diatas langit yang berubah-ubah warna hijau kuning. Kejadian tersebut terjadi pada bulan agustus 1953. Setelah itu kerton mulai tertarik dengan UFO.

Setelah mengalami penglihatan berkesan itu, kerton serasa mendapat firasat untuk pulang ke Indonesia dan membangun rumah di atas perbukitan. Entah bagaimana, akhirnya kerton mengikuti firasat itu. Ia pulang ke Bandung dan membangun rumah di perbukitan Pakar yang strategir, dan tahukah, rumah yang dibuatnya berbentuk mirip piring terbang.

Kemudian hal yang lebih mengesankan diakaui kerton adalah saat tahun 1979, ia mengaku didatangi piring terbang di larut malam. Bahkan ia mengaku diculik dan dibawa ke suatu tempat yang serba putih.

Pengakuan-pengakuan diatas memang masih sulit dipercaya. Namun, kebenaran akan ekstra terrestrial ini semakin menarik dibicarakan. Apalagi semenjak dunia astronomi semakin bergerak maju untuk mengungkap hal tersebut. Kita semakin terperangah karena saat ini telah ditemukan lebih dari 300 eksoplanet, satu diantaranya bahkan dinyatakan layak huni, yaitu Gliese 581c.

Kita mengetahui bahwa jagad raya ini begitu luas, terdiri dari miliaran galaksi, tiap galaksi terdiri dari miliaran bintang. Bumi dan tatasurya bahkan tidak akan sebesar titik jika dibandingkan dengan keseluruhan jagad raya. Jadi, mungkinkah ekstra terrestrial itu benar-benar ada? Mungkinkah alien dan UFO itu ada?

“Setiap makhluk yang ada di langit dan di bumi meminta kepada-Nya. Setiap hari ada urusan-Nya.” (Ar-Rahmaan:29)

“Hanya kepada Allahlah segala apa yang di langit dan bumi sujud (patuh), baik dengan kemauan sendiri atau terpaksa” (Ar-Ra’d:15)

Sumber: Buku “Tafakur Di Galaksi Luhur” karya Dedy Suardi

Tahun 2006 pluto gencar dibicarakan para astronom, para astronom meragukan status objek tersebut sebagai planet. Lebih tepatnya, meragukan objek tersebut sebagai planet yang merupakan bagian dari tatasurya. Adakah yang salah pada objek yang ditemukan pada tahun 1930 ini?

Para astronom berpendapat, jika suatu objek dikategorikan sebagai planet bagian dari tatasurya, maka objek tersebut haruslah terbentuk bersamaan dengan proses terbentuknya tatasurya. Dengan demikian objek tersebut haruslah memiliki karakteristik yang sama atau tidak jauh berbeda dengan objek lainnya yang juga tergolong planet. Hal tersebut bukan tanpa alasan, jikalau merujuk pada teori terbentuknya tatasurya, teori-teori tersebut mendukung pernyataan diatas. Misalnya teori nebula yang menyatakan bahwa mula-mula ada sebuah nebula yang baur dan hampir bulat, berotasi dengan lambat, kemudian nebula tersebut menyusut dan terbentuklah cakram datar di tengah-tengahnya. Penyusutan berlanjut dan matahari terbentuk di pusat cakram. Cakram berputar lebih cepat sehingga bagian-bagian tepi cakram terlepas membentuk gelang-gelang. Selanjutnya gelang-gelang memadat menjadi planet-planet yang berevolusi dalam orbit yang hampir melingkar mengintari matahari. Teori nebula sukses menjelaskan tatasurya datar, artinya orbit planet-planet mengintari matahari hampir datar. Dengan demikian planet-planet yang mengintari matahari harusnya memiliki kemiringan orbit yang tidak jauh berbeda satu sama lain. Dari merkurius sampai neptunus dapat memenuhi persyaratan tersebut, namun tidak dengan pluto. Planet ini memiliki sudut inklinasi terhadap ekliptika (orbit bumi) yang jauh berbeda dengan planet lainnya. Inilah “kesalahan” pluto yang pertama.

Kemudian, sifat-sifat planet di tatasurya adalah dalam hal densitas. Planet dalam (merkurius sampai mars) berbentuk padat, sedangkan diluar mars berbentuk gas. Hal ini juga tidak dapat dipenuhi pluto yang notabene berbentuk padat\. Bagaimana mungkin, dari jupiter, saturnus, uranus, dan neptunus berbentuk gas, tiba-tiba saja planet berikutnya berbentuk padat. Kenyataan tersebut akhirnya membuat pluto divonis “keluar” dari status sebagai planet anggota tatasurya. Pluto kemudian dianggap sebagai objek dari sabuk kuiper yang terperangkap masuk kedalam sistem tatasurya.

Namun yang menarik dari planet ini adalah berkenaan dengan ekstraterrestrial. Planet ini disinyalir bisa menjadi tempat bermuaranya kehidupan dimasa yang akan datang.

Sebagaimana telah saya sampaikan dalam tulisan berjudul “manusia bumi berlari ke sabuk kuiper saat matahari berevolusi”, bahwa saat matahari berevolusi kemungkinan bisa terbentuk zona habitasi baru di sekitar sabuk kuiper, termasuk pluto didalamnya. Saat itu suhu pluto akan meningkat tajam akibat mengembangnya matahari dan semakin dekatnya jarak matahari sehingga dunia es di pluto akan mencair, hingga pluto memiliki air dalam fasa cair dan temperatur permukaan yang mendukung adanya kehidupan. Hingga objek ini mungkin pantas dijadikan target ekstraterrestrial manusia bumi di masa depan. Lantas mungkinkah mungkinkah manusia bumi dapat hidup disana? Mari kita teliti lebih lanjut.

Permasalahan pertama adalah periode revolusinya, pluto memiliki periode revolusi sekitar 248 tahun. Artinya satu tahun di pluto akan sama dengan 248 tahun di bumi. Mungkinkah kehidupan tercipta pada kondisi seperti itu? Jangan pesimis dulu, permasalahan tersebut dapat terjawab. Ketika matahari menjadi raksasa merah maka jarak matahari-pluto akan terpangkas cukup signifikan, besarnya matahari kemungkinan akan melebihi orbit mars. Itu artinya jarak matahari-pluto akan jauh lebih kecil dari sekarang. Dengan jarak yang lebih kecil maka periode revolusinya akan menjadi jauh lebih cepat. Benarkah demikian?
Buktinya adalah revolusi sebuah planet akan lebih cepat pada posisi perihelium (paling dekat dengan matahari) dari pada aphelium (paling jauh dari matahari) akibat efek tekanan gravitasi yang diterima pada posisi perihelium lebih besar dari aphelium. Hal tersebut sangat logis, misal kita analogikan pada diri kita sendiri, kecepatan maksimum yang kita tempuh pada saat kita berlari tanpa tekanan akan jauh lebih kecil jika kita dalam kondisi tertekan, misal dikejar anjing. Begitu juga terjadi pada planet. Dengan demikian masalah revolusi bisa terjawab.

Permasalahan berikutnya, pluto memiliki eksentrisitas orbit yang paling tinggi, sehingga bentuk orbit pluto sangat elips, bahkan pada posisi tertentu jarak pluto bisa lebih dekat dari jarak neptunus ke matahari. Itu artinya pada posisi tertentu pluto akan masuk lingkungan orbit neptunus. Hal tersebut bisa menyebabkan terjadinya tabrakan antara pluto-neptunus. Tabrakan itu malah bisa lebih cepat terjadi jikalau periode revolusi keduanya lebih cepat. Jika demikian buat apa manusia bumi hijrah ke pluto, toh masa depan pluto terancam juga? Ternyata Allah maha sempurna, walaupun eksentrisitas orbitnya tinggi tapi diimbangi oleh inklinasi (kemiringan) orbit yang juga tinggi, sehinggga meskipun pluto memasuki lingkungan orbit neptunus tapi pluto tidak melintasi orbit neptunus, sehingga orbit keduanya tidak berpotongan. Lain halnya jika orbit keduanya terletak sejajar, maka dengan orbit pluto yang lebih elips akan menyebabkan orbit pluto memotong orbit neptunus sehingga suatu saat akan terjadi tabrakan. Dari penjelasan tersebut jelas bahwa keduanya tidak akan pernah bertabrakan. Ini adalah bukti kuasa Allah.

Lalu tepatkah jika pluto menjadi target ekstraterrestrial manusia bumi dimasa yang akan datang? Masih banyak syarat-syarat yang harus djawab memang, kita harus tahu bagamana atmosfernya, kondisi permukaannya, belum lagi pluto dketahui memilik percepatan gravitasi yang paling rendah jika dibandingkan  dengan 8 planet tatasurya, hal tersebut bisa menghambat kehidupan. So, selanjutnya terserah anda.

Manusia bumi saat ini sedang gencar meneliti tentang ekstra terrestrial, untuk mengungkap ada tidaknya kehidupan diluar bumi. Penelitian tersebut makin hari makin menunjukkan kemajuan pesat, hal tersebut ditandai dengan semakin banyaknya penemuan eksoplanet, yaitu planet-planet diluar sistem tatasurya. Apa gerangan yang membuat manusia bumi tertarik akan hal tersebut? Selain karena alasan pengembangan ilmu pengetahuan, ada pula isu yang cukup menggelitik mengenai hal tersebut, “manusia bumi tengah mempersiapkan misi ekstraterrestrial di massa depan untuk menyelamatkan diri dari amuk matahari”. Wow! Benarkah??? Apa yang dimaksud “amuk matahari”?

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa matahari akan berevolusi, sekitar 3,5 miliar tahun yang akan datang matahari akan memulai fase sebagai raksasa merah. Matahari akan mengembang menjadi besar namun pada saat bersamaan akan kehilangan sebagian massanya akibat efek angin bintang. Perilaku matahari tersebut akan menyebabkan planet-planet yang berada dalam sistem tatasurya akan mengalami gerak spiral keluar akibat massa matahari yang menurun sehingga tarikan gravitasinya pun menurun. Menurut penelitian, kecepatan spiral bumi tidak akan mampu mengimbangi kecepatan mengembang matahari, sehingga bumi tak akan selamat dan akan tertelan si raksasa merah. Lalu apa yang akan terjadi pada kehidupan dimuka bumi ini?

Sebelum bumi tertelan matahari, bumi akan terlebih dahulu keluar dari zona habitasinya, artinya faktor-faktor yang mendukung adanya kehidupan akan lenyap atau dengan kata lain bumi menjadi tak layak huni. Dalam kondisi tak layak huni, masihkan manusia bumi bertahan hidup?

Inilah yang menarik, timbul pemikiran bagaimana caranya untuk menyelamatkan kehidupan manusia?
Opsi pertama adalah mempercepat gerak spiral bumi, hingga bumi bisa mengimbangi kecepatan mengembang matahari, jika demikian bukan saja bumi akan selamat dari cengkraman matahari, tapi juga bumi akan tetap terjaga di habitable zone. Tapi mungkinkah? Rasanya pilihan tersebut mustahil dilakukan manusia bumi, sehebat-hebatnya teknologi tak akan sanggup mengendalikan untuk mengendalikan bumi. Lalu apa solusi berikutnya?

Misi ekstraterrestrial rasanya masih lebih logis. Mencari “bumi” lain yang layak dihuni dan pergi kesana. Mungkinkah?
Waktu sebelum matahari menginjak fase raksasa merah adalah sekitar 3,5 miliar tahun. Dalam waktu selama itu rasanya bukan tidak mungkin manusia bumi telah memiliki teknologi yang mendukung misi tersebut. Yang jadi pertanyaan berikutnya, kemanakah pelabuhan baru kehidupan itu? Haruskah manusia bumi “berlari” hingga berjuta-juta tahun cahaya menuju eksopanet diluar sistem tatasurya?
Ternyata jawabannya bisa saja tidak sejauh itu. Kemana gerangan?

Jawabannya adalah sabuk kuiper, yaitu tepi luar tatasurya yang jaraknya sekitar 30-50 SA. Mengapa bisa? Sebagaimana kita ketahui, sabuk kuiper mengandung objek-objek batuan dan metalik yang sedang mengalami “dunia es”, objek terbesar yang diketahui hingga saat ini adalah pluto dan eris. Lalu apakah faktor yang akan mendukung kehidupan disana?

Menurut penelitian disebutkan bahwa, pada saat matahari mengembang menjadi raksasa merah akan menyebabkan suhu di sekitar sabuk kuiper meningkat sehingga dunia es disana akan mencair, artinya akan muncul zona habitasi baru disekitar sabuk kuiper tersebut.

Yang menarik, saat ini dunia astronomi sedang meneliti keberadaan sebuah planet yang kemungkinan bisa sebesar bumi pada daerah kuiper cliff (jurang kuiper) sekitar 50 SA, yang dikenal dengan Planet X. Seandainya benar planet tersebut ada, maka planet tersebut juga bisa menjadi kandidat kehidupan baru.

Jikalau benar daerah sabuk kuiper akan menjadi habitable zone baru ketika matahari berevolusi, maka manusia bumi tidak usah terlalu jauh “melarikan diri”.

Misal jika objek ekstraterrestial itu ada pada jarak 50 SA, maka manusia bumi membutuhkan waktu sekitar 6,94 jam untuk sampai di objek tersebut dengan menggunakan roket foton berkecepatan cahaya (1 SA =8,33 menit cahaya). Bisa atau tidaknya hanya bisa dijawab oleh kehendak Yang Maha Kuasa, yang maha menentukan segala sesuatu. Karena bisa saja dunia ini akan kiamat sebelum kemungkinan-kemungkinan diatas itu terjadi, atau ada hal lain yang membuat hal-hal diatas hanya sekedar angan.
Wallohu alam..
Namun tidak ada salahnya kita berfikir, karena salah satu anugerah yang diberikan Allah kepada kita adalah pikiran, itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

“Mencoba mengembangkan imajinasi namun tetap berlandaskan ilmu, mohon maaf jika ada kesalahan dalam proses belajar ini”
-redbetelgeuse-

Berapakah Usia Bulan Saat Ini?

Rembulan, nama yang terasa begitu indah seindah cahayanya di langit malam. Bahkan, seorang pujangga biasa mengibaratkan kekasihnya dengan kata tersebut. Namun, saat ini kita telah sama-sama mengetahui bahwa bulan tak seindah seperti dalam puisi-puisi para pujangga tersebut.

Yang akan kita bicarakan pada kesempatan kali ini bukan mengenai indah atau tidaknya bulan tersebu, tapi pernahkah terbesit dalam pikiran kita, berasal dari mana bulan yang cahayanya terlihat begitu indah itu? Lebih jauh lagi, berapa usianya saat ini?

Selama ini, teori yang berkembang menyatakan bahwa bulan terbentuk bersamaan dengan terbentuknya bumi. Namun, berdasarkan hasil studi terbaru dari batuan bulan, menyatakan bahwa bulan terbentuk setelah bumi terbentuk, hal tersebut berhasil merevisi sejarah awal tata surya.

Penelitian isotop tungsten (wolfram) menghasilkan perubahan usia dari pembentukan bulan. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa bulan terbentuk oleh sisa-sisa tabrakan besar pada masa awal bumi. Menurut para kosmolog, pada awal pembentukan tata surya, bumi ditabrak oleh objek sebesar mars. Tabrakan tersebut menyebabkan potongan yang besar terlontar dari bumi. Energi tinggi dari tabrakan itu kemudian menyebabkan terjadinya pelelehan di permukaan, dan terbentuklah lautan magma. Objek inilah yang sekarang kita kenal sebagai bulan.

Hasil isotop tungsten sebelumnya juga menunjukkan bahwa bulan mengalami pemadatan pada waktu 60 juta tahun pertama tatasurya. Data terbaru dari perbandingan fraksi logam hafrium/tungsten menunjukkan konsistensi dengan samarium/neodymium chronometry menunjukkan bahwa proses pemadatan terjadi pada saat tata surya berusia sekitar 50-150 juta tahun. Karena itu, tata surya dipercya terbentuk sekitar 4,567 miliar tahun lalu, dan bulan terbentuk sekitar 60 juta tahun setelah tata surya terbentuk. Angka 60 juta tahun merupakan hasil dari estimasi terbahk dalam rentang 50-150 juta tahun yang diberikan dari hasil pengukuran isotop tungsten pada logam di bulan.

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa bulan berusia 60 juta tahun lebih muda dari bumi, dan bulan adalah bagian dari bumi yang terlontar keluar ketika terjadi tabrakan antara bumi dengan objek sebesar mars.

Sumber: www.langitselatan.com

Kata “supernova” begitu fenomenal di masyarakat Indonesia, terutama para pecinta novel. Bagaimana tidak, supernova pernah diangkat menjadi judul sebuah novel yang cukup laris di Indonesia. Namun, bukan novel supernova yang akan kita bahas, tapi supernova sebuah ledakan maha dahsyat yang terjadi pada bintang. Lalu bagaimana supernova itu bisa terjadi?

Terdapat dua tipe dari supernova, yaitu supernova pada bintang bermassa besar dan supernova pada bintang katai putih dari sistem bintang ganda.

1. Supernova pada bintang tunggal bermassa besar.

Proses ini hanya terjadi pada bintang yang memiliki massa minimal 8 kali massa matahari. Seperti yang pernah saya jelaskan dalam tulisan “Bagaimana Cara Bintang Bekerja?”, terdapat dua gaya berlawanan yang terjadi pada bintang, yaitu gaya gravitasi yang arahnya kedalam akibat dari massa bintang, dan tekanan keluar yang disebabkan oleh adanya reaksi fusi. Keberadaan kedua gaya tersebut menyebabkan terjadinya kesetimbangan pada bintang, sehingga bintang tersebut dapat bertahan hidup hingga bermiliar-miliar tahun. Namun, kesetimbangan itu tidak akan terjadi selamanya, reaksi fusi kelak akan terhenti ketika bahan bakarnya habis.

Saat bahan bakar telah habis, yang pertama terjadi adalah bagian luar akan mengembang menjadi raksasa merah, sementara bagian dalam akan terjadi pengerutan karena tidak tidak adanya lagi reaksi fusi menyebabkan tidak adanya perlawanan yang cukup terhadap gaya tekan kedalam akibat gravitasi. Saat terjadi pengerutan, pusat bintang menjadi lebih panas dan rapat. Saat pembakaran sama sekali tidak terjadi, dimana pusat bintang hanya berisi besi, dalam hitungan detik bintang akan memulai fasa akhir dalam hidupnya yaitu keruntuhan gravitasi. Pusat bintang akan mengalami tekanan hebat dan mengecil namun kemudian mengembang secara tiba-tiba. Energi pengembangan ini ditransfer ke selubung bintang, yang kemudian memicu terjadinya ledakan dan gelombang kejut. Saat gelombang kejut bertemu dengan materi bintang dari lapisan terluar, materi akan terpanaskan dan mengalami pembakaran membentuk elemen baru isotop radioaktif. Nah, gelombang kejut ini juga yang akan menyebabkan materi terlepas ke angkasa. Materi yang terlepas tersebut sekarang kita kenal sebagai supernova remnant.

2. Ledakan bintang katai putih.

Tipe lainnya dari supernova adalah ledakan tiba-tiba dari bintang katai putih dalam sistem bintang ganda. Bintang katai putih adalah titik akhir hidup bintang yang massanya lebih kecil dari 5 kali massa matahari. Katai putihnya sendiri bisa bermassa sekitar 1,4 matahari, sedangkan ukurannya hanya seukuran bumi.
Dalam sistem bintang ganda, bintang katai putih akan menarik sejumlah materi bintang pasangannya jika keduanya berjarak sangat dekat. Pada saat materi yang ditarik dan ditransfer ke bintang katai putih, massa katai putih akan meningkat. Pada saat massanya mencapai 1,4 massa matahari, tekanan di pusat akan mencapai batas ambang bagi nucleid karbon dan oksigen untuk memulai pembakaran secara tidak terkontrol yang pada akhirnya memicu terjadinya ledakan.

Begitulah penyebab-penyebab dibalik supernova. Namun, akhir yang tragis tersebut tidak akan terjadi pada matahari kita. Matahari yang tergolong bermassa kecil-sedang, akan mengakhiri hidupnya sebagai katai putih, kemudian seiring berjalannya waktu akan mendingin dan menjadi katai gelap.

Masih ingat sebuah lagu karya Pongki Jikustik berjudul “Pandangi Langit Malam Ini”?
Sebuah lagu yang mengisahkan kerinduan sepasang kekasih.

Langit malam, bintang-bintang dan rembulan. Tiga hal yang begitu fenomenal, entah telah berapa lagu dan puisi yang tercipta dan melibatkan ketiga hal tersebut. Dari mulai langit cerah bertaburan bintang, sampai langit mendung penuh kabutpun bisa disulap menjadi lagu dan puisi oleh para pujangga. Begitu luar biasanya objek-objek tersebut.
Namun, jika anda juga merupakan seorang “penikmat” langit malam, apakah anda tahu apa sebenarnya nama objek yang sering anda lihat di langit malam itu? Benarkah setitik cahaya yang anda lihat adalah bintang, ataukah justru sebuah planet?
Inilah yang akan saya sampaikan pada kesempatan kali ini, langit malam bulan agustus. Dan yang paling menarik, ada “merah putih” di langit malam bulan agustus ini. Benarkah?

Cukup banyak rasi bintang yang bisa diamati pada bulan agustus ini. Jika langit cerah setidaknya kita bisa melihat scorpio, ophiuchus, saggitarius, libra, lupus, norma, ara, centaurus, crux, aquila, bootes, cygnus dan lyra. Selain rasi-rasi tersebut, kita juga bisa melihat jupiter.
Begitu banyak objek yang bisa dilihat, lalu bagaimana caranya kita tahu identitas objek yang kita lihat?

Misalkan kita memulai pengamatan sekitar pukul 19.00 WIB. Arahkan pandangan ke arah timur, sekitar 40 derajat dari horizon kita akan melihat setitik cahaya terang yang bahkan paling terang dibanding objek lainnya, itulah jupiter. Untuk membedakannya dengan bintang, selain lebih terang jupiter juga tidak berkedip.

Lalu coba arahkan pandangan ke zenith(atas kepala). Akan ada satu titik bintang yang paling terang di zenith, itulah antares, bintang raksasa merah dari rasi scorpio. Dari antares itu coba lihat bintang-bintang disekitarnya, bersama antares bintang-bintang tersebut akan membentuk konstelasi scorpio (kalajengking). Jika telah menemukan scorpio maka kita juga bisa menemukan rasi bintang tetangganya, di sebelah timur lautnya ada saggitarius, di tenggaranya ophiuchus, barat dayanya libra, baratnya lupus, barat lautnya norma dan utaranya ara. Namun yang cukup jelas bisa dilihat adalah, scorpio, saggitarius, ophichus dan libra.

Kemudian bergeser ke selatan, sebuah titik paling cerah di selatan akan kita temukan, itulah alpha centauri, bintang tercerah ke 4 di langit malam. Disebelah kanan bawahnya ada beta centauri, tercerah ke 10 di langit malam. Kemudian jika ditarik garis dari alpha centauri ke beta centauri, perpanjangan garisnya akan menunjuk rasi crux (layang-layang). Namun posisi crux pada bulan agustus ini cukup rendah, sehingga agak sulit terlihat jika pandangan kita terhalang rumah, kecuali jika kita berada di lapangan yang luas.

Kemudian arahkan pandangan ke arah timur laut, kita akan melihat bintang yang cukup terang, itulah altair bintang tercerah ke 12 di langit malam dari rasi aquila, bintang-bintang lain dari rasi aquila cukup redup sehingga sulit untuk diamati mata telanjang.

Bergeser ke arah utara, kita akan temukan vega, bintang tercerah ke 5 di langit malam dari rasi lyra. Jika langit cukup cerah, kita juga bisa melihat deneb dari rasi cygnus tidak jauh dari vega.

Kemudian bergeser ke arah barat laut, akan terlihat arcturus, bintang tercerah ke 3 di langit malam dari rasi bootes. Arcturus akan menjadi objek paling terang ke 2 setelah jupiter di langit bulan agustus. Bahkan, pada kondisi mendungpun, terkadang kita masih bisa melihat bintang oranye ini.

Ada satu hal yang menarik pada langit malam bulan agustus ini, bertepatan dengan HUT RI yang ke 64, kita dapat melihat merah putih tampil di langit malam. Apa maksudnya?

Antares dan vega adalah yang saya maksud. Antares adalah bintang dengan spektrum warna merah, sedangkan vega memiliki spektrum warna putih. Menariknya adalah, sekitar pukul 19.00-20.00 WIB, antares akan tepat berada di atas kepala kita, artinya antares sedang berada di meridian atas (sedang kulminasi atas), pada waktu bersamaan vega juga menyentuh meridian atasnya (kulminasi atas), jadi jika kita tarik garis melengkung dari antares ke utara, akan menunjuk vega. Antares merah, vega putih. Merah putih di langit malam bukan?
Bahkan tidak hanya di langit malam saja, subuh sekitar pukul 5.00 WIB kita juga akan melihat merah putih “berkibar” di langit timur, melalui betelgeuse sang raksasa merah dari orion dan sirius si putih dari canis mayor.
Ternyata langit ikut merayakan HUT RI. Sebuah kado yang mungkin sama sekali tidak dipikirkan.

Langit malam penuh misteri dan keindahan, tiada lain menunjukkan kebesaran Sang Pencipta.

Semoga bermanfaat..

Dalam tulisan “Selamatkah Bumi Saat Matahari Berevolusi?”, saya telah menyampaikan tentang planet venus yang menjadi sangat panas karena berevolusi terlalu cepat. Lalu saya sedikit menyinggung tentang global warming yang juga bisa mengancam bumi untuk mengikuti jejak venus. Pada kesempatan kali ini, saya ingin membahas tentang global warming dan keterkaitannya dengan kertas. Kenapa hal ini yang dibahas? Karena selama ini banyak yang “mengkambinghitamkan” kertas sebagai penyebab global warming.

Sebelumnya kita harus mengetahui penyebab utama dari global warming itu apa? Global warming atau pemanasan global disebabkan oleh meningkatnya kandungan karbon dioksida pada atmosfer kita. Kenapa bisa meningkat? Jawabannya sederhana, produksi karbon dioksida semakin meningkat sementara jumlah pohon semakin sedikit. Produksi karbon dioksida semakin meningkat dengan semakin bertambah banyak industri yang mengeluarkan emisi udara dan juga semakin meningkatnya emisi udara dari kendaraan bermotor, sementara itu pohon yang notabene membutuhkan karbon dioksida sebagai raw material dari proses fotosintesisnya justru semakin berkurang. Akhirnya karbon dioksida yang tidak “tertangkap” oleh pohon-pohon tersebut terlepas ke atmosfer, dan global warminglah jadinya.

Lantas, apa keterkaitannya dengan kertas? Kita memang harus jujur bahwa kertas (Industri Pulp dan Kertas) mengeluarkan emisi udara, lalu apakah kertas mengurangi jumlah pohon?

Menurut pandangan sebagian besar orang, kertas itu berasal dari pohon (kayu), benar memang, tapi tidak sepenuhnya benar. Jawaban yang tepat adalah kertas berasal dari material berserat, dan contohnya adalah kayu yang memang paling banyak digunakan sebagai bahan baku kertas. Selain itu kertas juga bisa berasal dari serat sekunder (secondary fiber) ataupun tumbuh-tumbuhan (nonwood). Kalau kertas berasal dari pohon, apakah kertas mengurangi jumlah pohon?

Industri Pulp sebagai produsen bahan baku kertas memperoleh kayu sebagai bahan bakunya dari Hutan Tanaman Industri (HTI) yang sudah jelas legalitasnya dari Departemen Kehutanan. Berdasarkan data dari Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), luas keseluruhan HTI di Indonesia hanya sekitar 5% dari luas keseluruhan hutan Indonesia, jumlah yang sangat kecil. Apakah jumlah tersebut berkontribusi merusak hutan?
HTI tersebut menggunakan sistem tebang tanam secara berkala. Jadi, HTI tersebut jelas tidak mengurangi jumlah pohon karena setelah ditebang kemudian ditanam kembali. Industri pulp tidak akan membiarkan hutannya menjadi gundul, karena jika terjadi demikian maka Industri pulp tersebut tidak akan “hidup”. Jadi, jelas salah jika kita mempersalahkan Industri pulp sebagai penyebab berkurangnya jumlah pohon. Lalu siapa yang patut dipersalahkan? Illegal logging jawabannya, yang menebang tanpa tanggung jawab, entah siapa pelakunya, yang jelas sangat marak di Indonesia. Tapi satu yang perlu diingat, HTI bukan illegal logging!

Selama ini banyak orang berbicara dan menghimbau “kurangi konsumsi kertas”. Mereka berfikir bahwa dengan mengurangi pemakaian kertas maka kita akan mengurangi jumlah pohon yang hilang. Pernyataan yang menurut saya “lucu”. Kenapa? Pertama karena telah dijelaskan bahwa produksi kertas tidak menyebabkan berkurangnya pohon. Kedua, saat ini 50% dari produksi kertas berasal dari kertas bekas (secondary fiber). Yang ketiga, pemahaman mereka terhadapa kertas hanya terbatas pada kertas tulis cetak, koran, majalah atau kertas tisu. Padahal jenis kertas itu sangat banyak. Sebagai informasi, lebih dari 50% packaging makanan dan barang-barang saat ini menggunakan kertas (packaging paper). Belum lagi specialty paper yang juga sangat banyak. Jadi, pengurangan konsumsi terhadap kertas tulis cetak, koran atau tisu (kalau terjadi) tidak akan berpengaruh signifikan terhadap produksi kertas secara keseluruhan. Dan lucunya, disaat himbauan untuk mengurangi konsumsi kertas sedang gencar, produksi dan konsumsi kertas justru semakin meningkat. Bahkan menurut penelitian, konsumsi kertas per kapita suatu negara adalah proporsional terhadap kesejahteraannya. Indonesia masih tergolong negara dengan konsumsi kertas yang masih rendah, tak heran karena kesejahteraan masyarakat kita pun masih tergolong rendah.

Lalu pantaskah kertas dijadikan “kambing hitam” global warming?
Jikalau alasannya karena pohon, jelas kita jawab tidak.
Lalu bagaimana dengan emisi udara?
Industri pulp dan kertas memang mengeluarkan emisi udara, tapi tidak bijak rasanya jika kita hanya menyalahkan industri pulp dan kertas, karena industri yang mengeluarkan emisi tidak hanya industri pulp dan kertas. Industri pulp dan kertas hanyalah sebagian kecil dari sekian banyaknya industri.

Sekian.. Mudah-mudahan bermanfaat..

“Kertas tidak akan pernah terlepas dari kehidupan kita walaupun dunia digital semakin meraja lela”

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.